Apriyanti Marwah: Semangat Kartini untuk Kritisi Ketimpangan Demokrasi
|
Soppeng, Badan Pengawas Pemilihan Umum Kabupaten Soppeng, - Aktualisasi dan aksentuasi nilai kejuangan Kartini untuk demokrasi, dapat diartikan sebagai aktualisasi dan mempertegas spirit perjuangan, ide dan gagasan untuk diimplementasikan dalam segala bentuk upaya yang dapat dilakukan sebagai masyarakat, kelompok, dan penyelenggara pemilu. Aktualisasi dan Aksentuasi semangat Kartini ini kita diajak untuk menjadi masyarakat yang berfikir, dan mengkritisi ketimpangan yang terjadi dalam demokrasi. Upaya tersebut dilakukan dengan merealisasikannya dalam ruang dialog dan diskusi.
Hal tersebut diungkapkan oleh Apriyanti Marwah, Tenaga Ahli Bawaslu RI saat membawakan materi dalam kegiatan WFH Berdampak dengan tema "Aktualisasi dan Aksentuasi Nilai-Nilai Kejuangan Kartini untuk Demokrasi” Jumat (24/4/26). Kegiatan ini dihadiri secara daring lebih dari 70 orang peserta dari berbagai kalangan organisasi kemahasiswaan, penyelenggara pemilu, Ketua Bawaslu Provinsi Sulawesi Selatan Mardiana Rusli, Tenaga Ahli Bawaslu RI Apriyanti Marwah, Ketua dan Anggota Bawaslu Soppeng beserta jajaran.
Apriyanti Marwah menjelaskan bahwa aktualisasi dan aksentuasi Nilai-Nilai Kartini, yang berpikir kritis, membuka ruang edukasi, saling mendukung, tidak saling menegasikan satu sama lain. Kerja sama yang dibangun oleh RA Kartini, adalah kerja kolaborasi semua pihak, termasuk cara merespon dalam demokrasi.
“Tantangan Bawaslu saat ini meliputi dua hal, yakni tantangan struktur yang mencakup regulasi yang tersedia belum cukup komprehensif sehingga posisi bawaslu perlu dikuatkan dalam undang-undang pemilu.Selain itu, tantangan kultur yang masih banyak berhadapan dengan politik adu domba atau politik pecah belah, politik informasi HOAX, money poltik. Semangat Kartini sepertinya tidak akan menyerah dan tinggal diam untuk merespon tantangan yang saat ini dihadapi oleh Pengawas pemilu. Maka semangat RA Kartini ini yang harus dijaga.” ungkapnya.
Dirinya juga menambahkan “mengutip data dari National Democratic Institute tahun 2016, bahwa 44 % perempuan yang aktif berpolitik secara global pernah menghadapi ancaman pembunuhan, rudapaksa, pemukulan, dan/atau penculikan, selain itu, 88% perempuan pernah mengalami kekerasan dan pelecehan yang berkaitan dengan aktivitas politik mereka. Maka dari itu melihat kondisi yang terjadi, semangat NIlai-Nilai kejuangan R.A Kartini yang dapat diaktualisasikan yakni dengan perlawanan terhadap Pembatasan Hak Perempuan dalam demokrasi.” jelasnya.
Penulis dan Foto: Humas Bawaslu Soppeng
Editor: Humas Bawaslu Soppeng